Sabtu, 21 Juni 2014

Resensi the call


Film The Call :
  • Sutradara : Brad Anderson
  • Produser : Robert Stein, Michael A. Helfant, Bradley Gallo, Michael Luisi, Jeffrey Graup
  • Penulis Naskah : Richard D'Ovidio
  • Pemain : Halle Berry, Abigail Breslin, Michael Imperioli, Morris Chestnut, Michael Eklund, Justina Machado, Ella Rae Peck, Roma Maffia
  • Genre : Thriller, Menegangkan
  • Tanggal Rilis Perdana : 15 Maret 2013 (AS) - Juli Agustus 2013 (Indonesia)
  • Durasi : 94 menit
  • Studio : TriStar Pictures

The Call sebenarnya adalah sebuah film dengan presentasi cerita yang begitu sederhana – jika Anda memilih untuk tidak menggambarkannya sebagai sebuah film yang dipenuhi dengan berbagai adegan-adegan klise yang sering dijumpai dalam film-film sejenis. Bahkan, dengan keberadaan nama Richard D’Ovidio – yang sebelumnya pernah menuliskan naskah cerita film-film seperti Thir13en Ghosts (2001) dan Exit Wounds (2001) – serta diproduksi oleh WWE Studios – rumah produksi yang juga menghasilkan film-film sekelas The Marine (2006) dan 12 Rounds (2009), The Call jelas memiliki potensi untuk menjadi sebuah thriller berkelas kacangan yang (kebetulan) dibintangi oleh dua aktris kaliber Academy Awards, Halle Berry dan Abigail Breslin. Tidak seorangpun seharusnya dapat mengharapkan sesuatu yang lebih dari film ini.http://www.thatfilmguy.net/wp-content/uploads/2013/09/The-Call.jpg


Namun, The Call ternyata memiliki sebuah senjata rahasia yang bernama Brad Anderson. Sebelumnya sukses mengarahkan film-film berskala kecil dalam ukuran komersial namun begitu kuat ketika bercerita seperti Happy Accidents (2001), The Machinist (2004) dan Transsiberrian (2008), Anderson berhasil mengelola dengan sangat baik alur penceritaan dari The Call dan secara efektif memanfaatkan setiap detil cerita yang sebenarnya begitu sederhana menjadi bagian yang mampu membuat film ini tampil menegangkan. Sayangnya, secerdas apapun langkah Anderson dalam mengarahkan The Call, tidak dapat dipungkiri bahwa naskah cerita arahan D’Ovidio tampil begitu lemah, khususnya pada paruh ketiga penceritaan yang benar-benar merupakan titik kehancuran kualitas film ini.


The Call sendiri berkisah mengenai seorang anggota Los Angeles Police Department , Jordan Turner (Berry), yang bertugas sebagai operator telepon saluran gawat darurat, 911. Suatu malam, Jordan menerima telepon dari seorang gadis bernama Leah Templeton (Evie Thompson) yang mengadukan bahwa ada seorang pria asing yang menerobos masuk ke dalam rumahnya di kala ia sedang sendirian di rumah tersebut. Dengan sigap, Jordan lantas membimbing Leah agar gadis tersebut dapat menyelamatkan dirinya. Namun, akibat sebuah kesalahan kecil namun fatal, Leah justru berhasil diculik oleh pria tersebut untuk kemudian ditemukan tewas beberapa hari kemudian. Kejadian tersebut jelas memberikan guncangan yang hebat pada jiwa Jordan.

Enam bulan kemudian, Jordan kini tidak lagi berlaku sebagai operator saluran telepon 911. Ia kini ditempatkan sebagai pelatih bagi para calon pagawai yang ingin bekerja di posisi operator tersebut. Tidak disangka, ketika membantu seorang operator baru dalam menangani telepon yang ia terima, Jordan kembali menerima telepon dari seorang gadis muda, Casey Welson (Abigail Breslin), yang mengaku kalau dirinya sedang berada diculik dan disembunyikan di dalam bagasi sebuah mobil. Tentu saja, telepon tersebut lantas membuat Jordan panik dan mengingatkannya akan tragedi yang pernah ia alami beberapa bulan lalu. Pun begitu, tak ingin tragedi yang sama berulang pada Casey, Jordan kemudian mengerahkan seluruh kekuatannya untuk membimbing gadis tersebut dan berusaha membebaskannya dari marabahaya.

Sejujurnya, tidak banyak yang terjadi dalam 94 menit durasi perjalanan film ini. Fokus utama dari The Call jelas adalah interaksi yang terjalin antara karakter Jordan Turner dan Casey Welson melalui saluran telepon serta berbagai trik serta langkah-langkah yang diberikan Jordan untuk membebaskan Casey. Kecerdasan The Call berasal dari bagaimana Brad Anderson menangani materi yang begitu sederhana tersebut. Anderson menggulirkan ritme penceritaan The Call secara sederhana namun secara tepat membumbuinya dengan momen-momen menegangkan di saat-saat yang krusial. Anderson juga memiliki keahlian untuk menyimpan rapat detil penceritaan dengan baik sehingga mampu menumbuhkan rasa penasaran para penontonnya dengan mendalam. Dengan kecerdasannya tersebut, Anderson berhasil merubah The Call sebagai sebuah film yang dipenuhi dengan berbagai adegan klise menjadi sebuah sajian yang begitu mampu memberikan ketegangan pada penontonnya.


Jadi setidaknya kecerdasan pengarahan Anderson dapat berlangsung dalam durasi cukup lama. Ketika mencapai paruh ketiga penceritaan, disanalah The Call kemudian berubah menjadi sebuah struktur cerita yang berantakan. Membangun naskah ceritanya secara klise, Richard D’Ovidio kemudian terlihat kebingungan untuk memberikan ending kisah yang memuaskan. Hasilnya, D’Ovidio kemudian mengambil sebuah jalur cepat dan memberikan sebuah penyelesaian instan yang melibatkan perubahan karakterisasi satu karakter utama serta sebuah ending yang jelas akan membuat setiap penonton merasa dibodohi karenanya. Jelas sangat disayangkan mengingat sebelum momen kehancuran itu muncul, The Call sejujurnya mampu tampil sebagai sebuah thriller yang begitu menarik.

Tidak ada permasalahan yang begitu berarti di kualitas departemen lainnya. Halle Berry dan Abigail Breslin berhasil memimpin departemen akting film ini dengan begitu sempurna. Meskipun jarang hadir dalam satu adegan yang sama, Berry dan Breslin mampu menciptakan chemistry yang begitu erat dan sangat meyakinkan. Nama-nama pengisi jajaran pemeran lainnya seperti Morris Chestnut serta Michael Eklund jugahadir dengan penampilan yang jelas tidak mengecewakan. Tata produksi lain juga tampil maksimal dengan keberadaan tata musik arahan John Debney mampu tampil istimewa dan mengisi setiap adegan dengan elemen emosional yang sesuai dengan alur cerita yang ditampilkan.

Jelas adalah sangat mengecewakan untuk menyaksikan sebuah film yang semenjak awal telah mampu ditangani dengan baik namun harus tampil berantakan akibat paruh ketiga penceritaan yang begitu dangkal. The Call memang bukanlah sebuah presentasi yang sangat istimewa. Namun pengarahan Brad Anderson yang cerdas jelas menunjukkan bahwa sutradara asal Amerika Serikat tersebut memiliki kemampuan yang luar biasa dalam mengelola naskah cerita yang ia produksi – tidak peduli sesederhana apapun kualitas naskah cerita tersebut. Didukung dengan kualitas penampilan departemen akting dan produksi yang kuat, The Call cukup mampu untuk tampil sebagai sebuah film thriller yang sukses memberikan menit-menit yang menegangkan pada penontonnya terlepas dari beberapa kelemahan di dalam rangkaian penceritaannya.
http://www-sassisamblog-com.zippykid.netdna-cdn.com/wp-content/uploads/2013/05/Halle_Berry_The_Call_02.jpg


http://media.apunkachoice.com/image/ni/dz/extrabig/ei-137118.jpg

Sinopsis Film The Call.
Awal mula film ini menceritakan tentang seorang gadis(leah) cantik tingal dirumah sendiri. diwaktu malam ada seorng tak dikenal sedang masuk kerumahnya,leah ketakutan akan nyawanya melayang,segala sesuatu akan di lakukan untuk menyelamatkan diri,kemudian leah menghubungi operator telpon 911 di operatori langsung sama JORDAN.gadis itu di suruh sembunyi di bawah kolong ranjang di selang waktu terputus komuikasi,si penjahat putus harapan mendapatkan mangsa tidak lama kemudian leah mendapatkan call dari Jordan nah akirya penjahat mengetahui dimana leah sembunyi,kemudian terbunuh,dengan perasaan menyesal dan merasa bersalah Jordan akirnya memutuskan tidak menjadi operator 911 lagi.Ia pun menjadi pengajar bagi para calon karyawan magang di 911. Kematian tragis Leah saat itu terus menghantui Jordan hingga 6 bulan lamanya.

Namun pada suatu ketika, saat dihadapkan pada telepon dengan suatu tragedi yang nyaris sama, nurani Jordan pun tergerak dan ia kembali terjun sebagai operator 911. Adalah Casey Welson , seorang gadis belia diseberang telepon yang memohon bantuan dari Jordan. Casey yang saat itu sedang diculik, berada di dalam bagasi mobil dan pencarian terhadap dirinya berlangsung cukup sulit.

Seiring cemasnya penantian untuk menemukan Casey, hati Jordan semakin tergerak ketika mengetahui sebuah kenyataan mengejutkan. Apakah kiranya hal yang mengejutkan tersebut? Akankah Casey mampu diselamatkan, atau akan berakhir sama dengan Leah?

Jordan begitu khawatir dan takut akan kejadian yang pernah ia alami sebelumnya. Berita Casey Wilson (Abigail Breslin) terculik tersebar kesemua media. Ia berada dalam bagasi mobil milik Michael Foster. Untungnya dalam saku Casey ada handphone temannya yang terbawa. Akan tetapi handphone tersebut tidak bisa terlacak GPS (tidak ada chipnya) karena handpone prabayar. Casey menangis ketakutan. Jordan mengarahkan apa saja yang harus dilakukan Casey dalam bagasi mobil tersebut, mulai dari membuka lampu sein mobil, melambaikan tangan keluar sebagai tanda minta pertolongan dan menumpahkan cat. Semua yang dilakukan sia-sia. Sampe larut malam Jordan menunggu di kantor, menunggu kabar keadaan Casey dari “Tim Penyerbu”.

Jordan tidak sabar menunggu kabar keadaan Casey. Akhirnya ia melacak sendiri ke rumah merah yang alamatnya telah terlacak sebelumnya. Akhirnya, Jordan sampai di rumah itu. Ia memeriksa rumah tersebut akan tetapi tidak menemukan apapun. Ia keluar rumah. Di halaman rumah, ia menemukan handphone. Jordan mendengar suara yang mirip dengan apa yang ia dengar saat Casey menelponnya. Tak jauh dari tempat itu ia menemukan ruang bawah tanah (bungker). Saat akan menelpon “911” handphonenya terjatuh kedalam ruang tersebut. Dengan jantung berdebar-debar ia memeriksa ruangan tersebut. Ia menemukan Michael dan Casey diruangan tersebut. Casey dalam keadaan terikat tangannya. Michael ingin menyayat rambut dari kepala Casey. Dengan pertempuran yang sangat menegangkan akhirnya Jordan bisa membebaskan Casey tanpa bantuan Polisi. Jordan dan Casey memborgol Michael dalam ruangan tersebut.


·         Unsur Intrinstik The Call
  1. Tema
  Tokoh utama dalam film ini adalah seorang wanita bernama Jordan (Halle Berry). Dia bekerja di pusat informasi kepolisian “911” di United Sates. Dikisahkan  “911” merupakan tempat pengaduan publik untuk masyarakat United States.
  1. Tokoh  
  2.  Halle Berry sebagai Jordan Turner 
           Abigail Breslin sebagai Casey Welson
  1. Morris Chestnut sebagai Officer Paul Phillips
  2. Michael Eklund sebagai Michael Foster
  3. Michael Imperioli sebagai Alan Denado
  4. David Otunga sebagai Officer Jake Devans
  5. Justina Machado sebagai Rachel
  6. José Zúñiga sebagai Marco
  7. Roma Maffia sebagai Maddy
  8. Evie Thompson sebagai Leah Templeton
  9. Denise Dowse sebagai Flora
  10. Ella Rae Peck sebagai Autumn
  11. Jenna Lamia sebagai Brooke
  12. Ross Gallo sebagai Josh
Tara Platt sebagai Female Trainee
Kelebihan     :               
Film  bergenre thriller ini berhasil membuat tegang penontonnya. Jalan cerita yang menarik tidak membuat penonton bosan dengan alur ceritanya, bahkan berhasil membuat penonton semakin penasaran dengan jalan cerita didalam film ini.

Kekurangan :          


Kekurangan dari film ini adalah sosok Jordan yang merupakan polisi juga tetapi tidak bisa berkelahi, seharusnya ditampilkan adegan perkelahian yang cukup seru walaupun akhirnya harus kalah sesuai skenarionya. Polisi menggeledah pondok Michael tidak teliti, seharusnya melakukan pengecekan di sekitar pondok Michael juga sehingga akan menemukan ruang bawah tanah, apa lagi ada telpon yang rusak berserakan di atas tanah.


Juga Kekurangan film ini terdapat pada saat menceritakan alasan si penculik melakukan aksi menculik hingga membunuh korbannya tidak diceritakan dengan jelas. Hanya diberikan sedikit gambar tentang masa lalunya tanpa dijelaskan lebih jelas lagi sehingga penonton banyak yang kurang mengerti                                                     dengan alasan si penculik melakukan hal tersebut.

Penilaian dari saya     :
Film ini memiliki arti bahwa sebagai manusia kita harus saling tolong-menolong dan berusaha semampu kita untuk membantu orang lain yang sedang dalam kesulitan, meskipun hal tersebut dapat membahayakan diri kita sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar