Film The Call :
- Sutradara : Brad Anderson
- Produser : Robert Stein,
Michael A. Helfant, Bradley Gallo, Michael Luisi, Jeffrey Graup
- Penulis Naskah : Richard
D'Ovidio
- Pemain : Halle Berry, Abigail
Breslin, Michael Imperioli, Morris Chestnut, Michael Eklund, Justina
Machado, Ella Rae Peck, Roma Maffia
- Genre : Thriller, Menegangkan
- Tanggal Rilis Perdana : 15
Maret 2013 (AS) - Juli Agustus 2013 (Indonesia)
- Durasi : 94 menit
- Studio : TriStar Pictures
The Call sebenarnya adalah sebuah
film dengan presentasi cerita yang begitu sederhana – jika Anda memilih
untuk tidak menggambarkannya sebagai sebuah film yang dipenuhi dengan
berbagai adegan-adegan klise yang sering dijumpai dalam film-film
sejenis. Bahkan, dengan keberadaan nama Richard D’Ovidio – yang
sebelumnya pernah menuliskan naskah cerita film-film seperti Thir13en Ghosts (2001) dan Exit Wounds (2001) – serta diproduksi oleh WWE Studios – rumah produksi yang juga menghasilkan film-film sekelas The Marine (2006) dan 12 Rounds (2009), The Call jelas memiliki potensi untuk menjadi sebuah thriller
berkelas kacangan yang (kebetulan) dibintangi oleh dua aktris kaliber
Academy Awards, Halle Berry dan Abigail Breslin. Tidak seorangpun
seharusnya dapat mengharapkan sesuatu yang lebih dari film ini.
Namun, The Call
ternyata memiliki sebuah senjata rahasia yang bernama Brad Anderson.
Sebelumnya sukses mengarahkan film-film berskala kecil dalam ukuran
komersial namun begitu kuat ketika bercerita seperti Happy Accidents (2001), The Machinist (2004) dan Transsiberrian (2008), Anderson berhasil mengelola dengan sangat baik alur penceritaan dari The Call
dan secara efektif memanfaatkan setiap detil cerita yang sebenarnya
begitu sederhana menjadi bagian yang mampu membuat film ini tampil
menegangkan. Sayangnya, secerdas apapun langkah Anderson dalam
mengarahkan The Call, tidak dapat dipungkiri bahwa naskah cerita
arahan D’Ovidio tampil begitu lemah, khususnya pada paruh ketiga
penceritaan yang benar-benar merupakan titik kehancuran kualitas film
ini.
The Call sendiri berkisah mengenai
seorang anggota Los Angeles Police Department , Jordan Turner (Berry),
yang bertugas sebagai operator telepon saluran gawat darurat, 911. Suatu
malam, Jordan menerima telepon dari seorang gadis bernama Leah
Templeton (Evie Thompson) yang mengadukan bahwa ada seorang pria asing
yang menerobos masuk ke dalam rumahnya di kala ia sedang sendirian di
rumah tersebut. Dengan sigap, Jordan lantas membimbing Leah agar gadis
tersebut dapat menyelamatkan dirinya. Namun, akibat sebuah kesalahan
kecil namun fatal, Leah justru berhasil diculik oleh pria tersebut untuk
kemudian ditemukan tewas beberapa hari kemudian. Kejadian tersebut
jelas memberikan guncangan yang hebat pada jiwa Jordan.
Enam bulan kemudian, Jordan kini tidak
lagi berlaku sebagai operator saluran telepon 911. Ia kini ditempatkan
sebagai pelatih bagi para calon pagawai yang ingin bekerja di posisi
operator tersebut. Tidak disangka, ketika membantu seorang operator baru
dalam menangani telepon yang ia terima, Jordan kembali menerima telepon
dari seorang gadis muda, Casey Welson (Abigail Breslin), yang mengaku
kalau dirinya sedang berada diculik dan disembunyikan di dalam bagasi
sebuah mobil. Tentu saja, telepon tersebut lantas membuat Jordan panik
dan mengingatkannya akan tragedi yang pernah ia alami beberapa bulan
lalu. Pun begitu, tak ingin tragedi yang sama berulang pada Casey,
Jordan kemudian mengerahkan seluruh kekuatannya untuk membimbing gadis
tersebut dan berusaha membebaskannya dari marabahaya.
Sejujurnya, tidak banyak yang terjadi dalam 94 menit durasi perjalanan film ini. Fokus utama dari The Call
jelas adalah interaksi yang terjalin antara karakter Jordan Turner dan
Casey Welson melalui saluran telepon serta berbagai trik serta
langkah-langkah yang diberikan Jordan untuk membebaskan Casey.
Kecerdasan The Call berasal dari bagaimana Brad Anderson menangani materi yang begitu sederhana tersebut. Anderson menggulirkan ritme penceritaan The Call
secara sederhana namun secara tepat membumbuinya dengan momen-momen
menegangkan di saat-saat yang krusial. Anderson juga memiliki keahlian
untuk menyimpan rapat detil penceritaan dengan baik sehingga mampu
menumbuhkan rasa penasaran para penontonnya dengan mendalam. Dengan
kecerdasannya tersebut, Anderson berhasil merubah The Call
sebagai sebuah film yang dipenuhi dengan berbagai adegan klise menjadi
sebuah sajian yang begitu mampu memberikan ketegangan pada penontonnya.
Jadi setidaknya kecerdasan
pengarahan Anderson dapat berlangsung dalam durasi cukup lama. Ketika
mencapai paruh ketiga penceritaan, disanalah The Call kemudian
berubah menjadi sebuah struktur cerita yang berantakan. Membangun naskah
ceritanya secara klise, Richard D’Ovidio kemudian terlihat kebingungan
untuk memberikan ending kisah yang memuaskan. Hasilnya, D’Ovidio
kemudian mengambil sebuah jalur cepat dan memberikan sebuah penyelesaian
instan yang melibatkan perubahan karakterisasi satu karakter utama
serta sebuah ending yang jelas akan membuat setiap penonton
merasa dibodohi karenanya. Jelas sangat disayangkan mengingat sebelum
momen kehancuran itu muncul, The Call sejujurnya mampu tampil sebagai sebuah thriller yang begitu menarik.
Tidak ada permasalahan yang begitu
berarti di kualitas departemen lainnya. Halle Berry dan Abigail Breslin
berhasil memimpin departemen akting film ini dengan begitu sempurna.
Meskipun jarang hadir dalam satu adegan yang sama, Berry dan Breslin
mampu menciptakan chemistry yang begitu erat dan sangat
meyakinkan. Nama-nama pengisi jajaran pemeran lainnya seperti Morris
Chestnut serta Michael Eklund jugahadir dengan penampilan yang jelas
tidak mengecewakan. Tata produksi lain juga tampil maksimal dengan
keberadaan tata musik arahan John Debney mampu tampil istimewa dan
mengisi setiap adegan dengan elemen emosional yang sesuai dengan alur
cerita yang ditampilkan.
Jelas adalah sangat mengecewakan untuk
menyaksikan sebuah film yang semenjak awal telah mampu ditangani dengan
baik namun harus tampil berantakan akibat paruh ketiga penceritaan yang
begitu dangkal. The Call memang bukanlah sebuah presentasi yang
sangat istimewa. Namun pengarahan Brad Anderson yang cerdas jelas
menunjukkan bahwa sutradara asal Amerika Serikat tersebut memiliki
kemampuan yang luar biasa dalam mengelola naskah cerita yang ia produksi
– tidak peduli sesederhana apapun kualitas naskah cerita tersebut.
Didukung dengan kualitas penampilan departemen akting dan produksi yang
kuat, The Call cukup mampu untuk tampil sebagai sebuah film thriller
yang sukses memberikan menit-menit yang menegangkan pada penontonnya
terlepas dari beberapa kelemahan di dalam rangkaian penceritaannya.

Sinopsis Film The Call.
Awal mula film ini menceritakan
tentang seorang gadis(leah) cantik tingal dirumah sendiri. diwaktu malam ada
seorng tak dikenal sedang masuk kerumahnya,leah ketakutan akan nyawanya
melayang,segala sesuatu akan di lakukan untuk menyelamatkan diri,kemudian leah
menghubungi operator telpon 911 di operatori langsung sama JORDAN.gadis itu di
suruh sembunyi di bawah kolong ranjang di selang waktu terputus komuikasi,si
penjahat putus harapan mendapatkan mangsa tidak lama kemudian leah mendapatkan
call dari Jordan nah akirya penjahat mengetahui dimana leah sembunyi,kemudian
terbunuh,dengan perasaan menyesal dan merasa bersalah Jordan akirnya memutuskan
tidak menjadi operator 911 lagi.Ia pun menjadi pengajar bagi para calon
karyawan magang di 911. Kematian tragis Leah saat itu terus menghantui Jordan
hingga 6 bulan lamanya.
Namun pada suatu ketika, saat
dihadapkan pada telepon dengan suatu tragedi yang nyaris sama, nurani Jordan
pun tergerak dan ia kembali terjun sebagai operator 911. Adalah Casey Welson ,
seorang gadis belia diseberang telepon yang memohon bantuan dari Jordan. Casey
yang saat itu sedang diculik, berada di dalam bagasi mobil dan pencarian
terhadap dirinya berlangsung cukup sulit.
Seiring cemasnya penantian untuk
menemukan Casey, hati Jordan semakin tergerak ketika mengetahui sebuah
kenyataan mengejutkan. Apakah kiranya hal yang mengejutkan tersebut? Akankah
Casey mampu diselamatkan, atau akan berakhir sama dengan Leah?
Jordan begitu khawatir dan takut akan kejadian yang pernah ia alami
sebelumnya. Berita Casey Wilson (Abigail Breslin) terculik tersebar kesemua
media. Ia berada dalam bagasi mobil milik Michael Foster. Untungnya dalam saku
Casey ada handphone temannya yang terbawa. Akan tetapi handphone tersebut tidak
bisa terlacak GPS (tidak ada chipnya) karena handpone prabayar. Casey menangis
ketakutan. Jordan mengarahkan apa saja yang harus dilakukan Casey dalam bagasi
mobil tersebut, mulai dari membuka lampu sein mobil, melambaikan tangan
keluar sebagai tanda minta pertolongan dan menumpahkan cat. Semua yang
dilakukan sia-sia. Sampe larut malam Jordan menunggu di kantor, menunggu kabar
keadaan Casey dari “Tim Penyerbu”.
Jordan tidak sabar menunggu kabar keadaan Casey. Akhirnya ia melacak sendiri
ke rumah merah yang alamatnya telah terlacak sebelumnya. Akhirnya, Jordan
sampai di rumah itu. Ia memeriksa rumah tersebut akan tetapi tidak menemukan
apapun. Ia keluar rumah. Di halaman rumah, ia menemukan handphone. Jordan
mendengar suara yang mirip dengan apa yang ia dengar saat Casey menelponnya.
Tak jauh dari tempat itu ia menemukan ruang bawah tanah (bungker). Saat akan
menelpon “911” handphonenya terjatuh kedalam ruang tersebut. Dengan jantung
berdebar-debar ia memeriksa ruangan tersebut. Ia menemukan Michael dan Casey
diruangan tersebut. Casey dalam keadaan terikat tangannya. Michael ingin
menyayat rambut dari kepala Casey. Dengan pertempuran yang sangat menegangkan
akhirnya Jordan bisa membebaskan Casey tanpa bantuan Polisi. Jordan dan Casey
memborgol Michael dalam ruangan tersebut.
- Tema
Tokoh utama dalam film ini adalah seorang wanita bernama Jordan (Halle
Berry). Dia bekerja di pusat informasi kepolisian “911” di United
Sates. Dikisahkan “911” merupakan tempat pengaduan publik untuk
masyarakat United States.
- Tokoh
- Halle Berry sebagai Jordan Turner
Abigail Breslin sebagai Casey Welson
- Morris Chestnut sebagai Officer Paul Phillips
- Michael Eklund sebagai Michael Foster
- Michael Imperioli sebagai Alan Denado
- David Otunga sebagai Officer Jake Devans
- Justina Machado sebagai Rachel
- José Zúñiga sebagai Marco
- Roma Maffia sebagai Maddy
- Evie Thompson sebagai Leah Templeton
- Denise Dowse sebagai Flora
- Ella Rae Peck sebagai Autumn
- Jenna Lamia sebagai Brooke
- Ross Gallo sebagai Josh
Tara Platt sebagai Female Trainee
Kelebihan
:
Film bergenre thriller ini
berhasil membuat tegang penontonnya. Jalan cerita yang menarik tidak membuat
penonton bosan dengan alur ceritanya, bahkan berhasil membuat penonton semakin
penasaran dengan jalan cerita didalam film ini.
Kekurangan :
Kekurangan dari film ini adalah sosok Jordan yang
merupakan polisi juga tetapi tidak bisa berkelahi, seharusnya ditampilkan
adegan perkelahian yang cukup seru walaupun akhirnya harus kalah sesuai
skenarionya. Polisi menggeledah pondok Michael tidak teliti, seharusnya
melakukan pengecekan di sekitar pondok Michael juga sehingga akan menemukan
ruang bawah tanah, apa lagi ada telpon yang rusak berserakan di atas tanah.
Juga Kekurangan film ini terdapat pada
saat menceritakan alasan si penculik melakukan aksi menculik hingga membunuh
korbannya tidak diceritakan dengan jelas. Hanya diberikan sedikit gambar
tentang masa lalunya tanpa dijelaskan lebih jelas lagi sehingga penonton banyak
yang kurang mengerti
dengan alasan si penculik melakukan hal tersebut.
Penilaian dari
saya :
Film ini memiliki arti bahwa sebagai
manusia kita harus saling tolong-menolong dan berusaha semampu kita untuk
membantu orang lain yang sedang dalam kesulitan, meskipun hal tersebut dapat
membahayakan diri kita sendiri.
| | | | |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar